Senin, 22 Desember 2014

MATA KULIAH : PENDEKATAN DALAM PENGKAJIAN ISLAM (PPI)




RANGKUMAN
BUKU PENELITIAN AGAMA, MASALAH DAN PEMIKIRAN Hal.31-49
(Disusun oleh Mulyanto Sumardi)


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
PENDEKATAN DALAM  PENGKAJIAN ISLAM (PPI)
Dosen : Bp Siswanto Masruri




Disusun oleh :

Suroto
Purnomo




PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER STUDI ISLAM
KONSENTRASI SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2015






DIPERLUKAN PENDEKATAN BUKAN BARAT
TERHADAP
KAJIAN MASYARAKAT INDONESIA

DELIAR NOER


Tulisan ini merupakan pemikiran yang didasari pada perasaan yang timbul setelah membaca suatu kajian penulis asing , kadang juga penulis bangsa sendiri tentang masyarakat Indonesia, mungkin sekali dipengaruhi oleh nilai-nilai yang bukan berasal dari masyarakat sendiri, sehingga diperlukan pendekatan bukan barat terhadap kajian masyarakat  Indonesia.
            Umumnya penulis barat dipengaruhi oleh dua aliran yaitu Liberal Kapitalis dan marxis. Selain itu ada aliran yang bersumber kan agama , dalam hal ini adalah agama kristen. Aliran tersebut menolak kedua aliran tersebut di atas. Pada kajian masyarakat indonesia boleh dikatakan bahwa kedua aliran pertama lebih mendapat tempat baik dalam pengertian positif maupun negatif. Dalam kenyataannya , kajian yang dilakukan biasanya tidak mencerminkan aliran-aliran tersebut secara terpisah. Ada kecenderungan menggunakan pendekatan bercampur. Juga sumber yang sama dari ketiga aliran tersebut yaitu sama sama berkembang di barat dengan penduniawian agama kristen serta paham kebendaan yang mendasari pangkal tolak aliran Liberal kapitalis dan marxisme.
Merujuk tulisan Ismail R Al Faruqi (1977) Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1977,1978) dan Muhammad Al-Hasan (1978), betapa pendekatan yang dilakukan oleh banyak penulis barat tentang negara kita yang beragam’a Islam  lebih banyak berdasar pada pendekatan yang disertai prasangka atau disertai perbandingan dengan negeri atau masyarakat yang tidak relevan. Pendekatan ini juga terasa dalam tulisan-tulisan para ahli kita.
Akhirnya diperlukan diperlukan penilaian ulang dari pendekatan yang diharapkan lebh dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam buku The Myth of the lazy native Syed hussein Alatas menyanggah pengamat asing tentang sifat orang orang melayu yang mereka sebutkan itu pemalas, tumpul, khianat, kekanak-kanakan dan sebagainya. Syed Hussein berkesimpulan sifat tersebut tumbuh pada pengamat bersangkutan karena penolakan orang kita melibatkan diri dalam perkembangan ekonomi yang diselenggarakan perusahaan barat. Pandangan ini bersandar pada lima sebab :

1.      Generalisasi yang salah
2.      Interpretasi tentang sesuatu tanpa memperhatikan konteksnya.
3.      Kurang rasa seperasaan
4.      Prasangka yang disebabkan fanatisme sifat angkuh dan sombong
5.      Dominasi tanpa sadar .

Ada tiga hal yang sering dikemukakan penulis barat dalam mengadakan analisa negeri dan orang indonesia pada umumnya

1.      Soal adat, mereka berpendapat sangat bertentangan dengan islam
2.      Tentang kedudukan wanita, mereka berpendapat bahwa kedudukan wanita sngat rendah dalam Islam.
3.      Tentang Islam itu sendiri, kata mereka ajaran islam tidak sesuai dengan zaman kini atau tidak memenuhi tuntutan ilmu pengetahuan.

Kenyataan dalam sejarah menunjukkan , bahwa kedua golongan yang disebut golongan adat dan golongan agama itu mempunyai hubungan darah yang bersifat tidak ekslusif. Dalam golongan adat bisa dijumpai orang alim dan dalam kalangan ulama dijumpai penghulu adat. Sehingga tidak ada kemungkinan bertemunya kedua ajaran tersebut  yang dicerminkan kata syarak mangato, adat mamakai, adat bersendi syarak, syarak bersendikan kitabullah. Misalkan dalam hal perkawinan , penulis barat sering mengemukakan bahwa perkawinan dalam islam bersifat perjanjian (kontrak) antara dua pribadi, sedang adat melihat dari segi hubungan keluarga , malah dua suku.
Penulis barat tidak mengemukakan bahwa dalam islam perasaan kasih sayang dan cinta kasih serta saling memperhatikan termasuk hal yang penting. Kedudukan wanita soal hubungan adat dan Islam sangat erat. Para penulis barat mengatakan kedudukan wanita dalam Islam sangat rendah , tidak sederajat dengan laki laki. Clifford Geertz berpendapat bahwa dengan perhatian yang lebih banyak diberikan oleh orang orang melayu terhadap ajaran Islam, maka isi ajaran Islam berkembang sehingga anti (kebudayaan) melayu dan India . Hary J.Benda berpendapat  Islam seperti yang diperjuangkan Masyumi dilihat dari sudut nasionalisme yang berpusat ke jawa sebagai pengaruh yang dasarnya adalah asing , tiada bersifat jawa, malah tiada bersifat Indonesia. Pandangan penulis barat tentang kedua masalah ini mencerminkan pada dasarnya pandangan mereka terhadap Islam .
Umumnya penulis barat merujuk pada pendekatan Max Weber terhadap masyarakat. ia termasuk pelopor dalam ssosiologi terutama yang berkenaan dengan agama. Ia membicarakan Yahudi, Kristen , budha , Tao dan Konghucu, dan ia juga membicarakan agama Islam. Dikatakan bahwa agama Islam akhirnya adalah agama tukang tukang perang saja.
Penulis barat kontemporer tidak senegatif itu dalam melihat Islam, Nabi Muhammad dan para sahabat . mereka membatasi perhatian pada gejala yang dapat diamati dengan panca indera kasar, bukan kekhas- san dari satu satu agama , maka mereka tidak melihat sifat Islam. Clifford Geertz melihat segala sesuatu yang bersifat misterius dan mistis pada orang orang jawa sebagai agama atau bagian dari agama, sekurang kurangnya Agama jawa (the religion of java)
Berbicara tentang Islam dalam hubungan dengan kajian masyarakat , maka ia (Clifford Geertz) antara lain mengandung kekhasan berikut :
·    Bahwa ia mencakup aspek rohani maupun aspek jasmani dan kedua aspek ini masing masing bisa disamakan dengan aspek ukhrowi dan aspek duniawi
·      Bahwa dalam islam , manusia diakui mengetahui tentang dunia
·      Bahwa ia mengandung keseimbangan antara kehidupan individu dan kehidupan sosial.
·     Bahwa ia tidak mengenal sistem pendeta dan bahwa kesatuan rujukan ajaranya masih senantiasa asli, Qur’an dan Sunnah.

Sungguhpun di antara penulis barat ada yang melihat dan mengakui kekhasan ini, namun ada pula yang tidak peduli dengannya, contohnya Weber. Lain dengan Kessler “perkembangan sosial dalam Islam tidak ditentukan oleh ajaran agama.
                Senada dengan Greetz paham paham Ahlu Sunnah dalam Islam “ dahulu tidak dan kini masih juga tidak mewakili paham yang utama tentang kerohanian di Indonesia. Baginya aliran abangan --- tidak sholat, tidak puasa di bulan Ramadhan, tidak ingin melakukan ibadah haji dan katanya umumya juga makan daging babi, ----- merupakan mayoritas. Pendapat ini didasarkan pada pengamatannya di satu kota kecil di Jawa ( Mojokuto ) . dan dijeneralisasikannya unuk seluruh Pulau Jawa. Mereka lebih tertarik pada gejala dan tingkah laku manusia dalam beragama tanpa menghubungkannya dengan agama itu sendiri.
Batasan pandangan pertama menyebabkan sesuatu bersifat relatif apalagi dengan perubahan masa dan tempat. Lebih membatasi diri pada pengamatan tentang upacara, ritus dan ibadah dalam arti sempit. Sehingga dalam islam tanggung jawab terakhir terletak pada masing masing individu. Pandangan pertama menyejajarkan agama sebagai suatu aspek hidup diantara aspek aspek lain lain seperti ekonomi, politik,ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pandangan kedua lebih bersifat transendental dan universal yakni melihat agama (islam) sebagai cahaya yang menyinari segala aspek hidup, atau sebagai faktor utama yang membentuk aspek hidup. Pandangan ini juga mencari arti ibadah bagi pribadi serta bagi masyarakat, karena memang arti ibadah itu mengandung dua segi. Umpamanya sholat mengika hubungan manusia dengan Alloh dan sholat mencegah perbuatan keji dan munkar. Dalam Islam segala macam aspek hidup dicakup dalam hukum,  Fardhu , Sunnat , Jaiz , Mubah. Masing masing kategori termasuk bidang yang luas, maka sebenarnya ruang gerak bagi muslim sangat pula luas. Termasuk dalamnya bagian adat dalam masyarakat yang sungguhpun mungkin berasal dari zaman sebelum Islam dikenal, bisa saja dilanjutkan sesudah islam masuk, asalkan tidak bertentangan dengan pokok pokok Kaidah.
          Maka untuk selanjutnya kita perlu mengubah pendekatan kita. Ada dua jalan yang perlu ditempuh untuk membuat kajian tentang masyarakat kita secara lebih dapat dipertanggungjawabkan. Sarjana kita perlu mengkaji esensi masyarakat kita yang memang beragama Islam. Kita perlu menumbuhkan dan mengembangkan istilah khusus untuk menggambarkan masyarakat yang kita bahas itu. Menurut keyakinan Islam , hanya Islam yang tersimpul dalam Qur’an yang dijamin Alloh sampai akhir zaman.

Terima kasih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar